Penulis : Bung Baedy (FB)

Jauh sebelum waduk cacaban dibangun sebenarnya Tegal sudah memiliki sistem pertanian basah, yaitu dengan dibuktikan dengan adanya Bendungan Danawarih yang diprakarsai oleh Ki Gede Sebayu. Bendungan ini berfungsi untuk memasok air utk daerah persawahan Tegal bagian utara.

Jika kita menilik sejarah, sebenarnya ada beberapa faktor yg melatarbelakangi dibangunnya waduk cacaban. Diantaranya adalah :

1. Seiring meningkatnya hasil komoditas pertanian dan perkebunan salah satu contohnya Banyaknya pabrik gula yg berdiri di bumi Tegal mengharuskan pertanian di Tegal membutuhkan pasokan air yg lebih. Sehingga berdasarkan hasil kajian pemerintah Hindia Belanda perlu dibangun sistem pengairan lagi.

2. Pada tahun 1901 Raja Belanda, Wilhelmina (Wilmahena) mulai memberlakukan ajaran ‘Trias van Deventer’ atau politik etis (balas budi) yg diantaranya adalah mewajibkan pihak pemerintah Hindia Belanda untuk membangun bendungan atau sejenisnya.

Dari dua faktor ini maka pada tahun 1914 pemerintah Hindia Belanda mulai membuat master plan pembangunan bendungan atau waduk. Adapun tempat yg paling cocok pada saat itu adalah Kedung Pipisan, sebuah tempat yg berlatar belakang bukit (cekungan). Pembuatan master plan ini mengalami beberapa kendala hingga baru selasai secara detail pada tahun 1930.

Namun pada tahun 1930 an, Belanda mengalami krisis ekonomi (krisis malaise) sehingga pembangunan waduk ditunda. Hingga pada tahun 1952 oleh Bung Karno pembangunan waduk itu mulai direalisasikan. Tepat pada tanggal 16 September 1952 Bung Karno melakukan peletakan batu pertama yg ditandai dengan peletakan cungkir emas.

Pembangunan waduk ini berlangsung selama 6 tahun, dan pada tanggal 19 Mei 1958 waduk ini diresmikan. Berhubung Bung Karno berhalangan maka beliau mengutus Mr. Sartono utk mewakilinya. Diceritakan bahwa akibat pembangunan waduk ini maka pemerintah Indonesia khususnya Tegal terpaksa melakukan bedol desa. Dalam beberapa catatan disebutkan ada 4 – 9 desa yg dibedol (dialihkan), termasuk desa Rayan.

Untuk nama waduk, Bung Karno memilih kata ‘cacaban’ yg berasal dari kata ‘ancaban’. Adapun ancaban berarti ‘menarik perhatian / bikin penasaran’. Sehingga pada akhirnya banyak orang yg berkunjung. Sepertinya Bung Karno mampu meraba masa depan karena terbukti sekarang waduk ini disamping sebagai pengairan juga sebagai objek wisata.

Adapun luas waduk cacaban adalah 928,24 Ha,  mampu menampung air hingga 90 juta m3. Waduk cacaban membentang 3 kecamatan yaitu Kedungbanteng, Jatinegara, dan Pangkah.

Foto : jejak.pendaki.com
Sumber :
1. Wikipedia
2. jurnal.ugm.ac.id
3. Kajian Sejarah dan Legenda Akhmad Zubaedi (***)

 171 total views,  2 views today

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.