Media Network

29 Oktober 2020

Stasiun Kereta Api TEGAL

2 min read

detakindonesia.com – Berdiri dekat gedung Birao, bangunan stasiun kereta api Tegal dirancang oleh Henry Maclaine Ponts tahun 1911 untuk perusahaan kereta api Semarang Cheriboon Stroomtram Matschappij (SCS) yang melayani trayek Semarang-Cirebon. Berdiri diatas tanah seluas ± 2.015 meter, stasiun Tegal memiliki luas bangunan ± 1.802 meter dan panjang ± 67,5 meter serta lebar ± 5,5 meter dan tinggi bangunan ± 8 meter. Kompleks stasiun Tegal berada di jalan Pancasila, Kolonel Sudiarto dan Semeru.

Sebelumnya stasiun Tegal merupakan stasiun trem yang dimiliki perusahaan Java Spoorweg Maatschappij yang telah berdiri tahun 1885. Tahun 1897, stasiun trem tersebut dibeli oleh perusahaan SCS. Tahun 1918 bangunan ini mengalami renovasi.

Jauh sebelum dibuka trayek Semarang – Cirebon, pemerintah kolonial merencana pembuatan jalan kereta api sebagai jalur alternatif pengganti jalan mulai digagas pada 18 Januari 1882, yang membuka jalur Tegal – Balapulang melalui Banjaran dan Slawi.

Dari Banjaran percabangan akan menghubungkan daerah ke wilayah Pangka. Makna pembuatan rel kereta api itu diantaranya mempermudah jalur pengangkutan komoditas gula seperti di Pangka dan Balapulang.

Dengan kata lain pembukaan jalur kereta api makin memudahkan pengiriman hasil perkebunan di pedalaman Tegal menuju pelabuhan Tegal. Pembangunan pelabuhan niaga sebagai pendukung transportasi komoditas perkebunan yang sudah ada semasa cultuurstelsel.

Di kawasan pelabuhan Tegal terdapat gudang-gudang penyimpanan kopi dan gula. Perkembangan berikutnya moda transportasi kereta api diupayakan untuk mengatasi arus mobilitas sosial di kawasan pesisir Jawa serta kondisi jalan Groote Postweg (jalan Daendels) yang dianggap tidak lagi sebagai pilihan karena kondisi jalan yang rusak. Hingga sekarang stasiun Tegal menjadi perlintasan kereta api cukup padat di wilayah pesisir utara yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya.

Sama seperti karya Ponts lainnya, bangunan stasiun Tegal sama persis dengan karya Ponts lainnya yakni menggabungkan antara estetika dan fungsi.

Karakter lainnya menggabungkan nilai tradisi setempat. Ini terbukti dengan seksama melihat atap stasiun Tegal. Jika melihat atap stasiun Tegal, tanpa disadari terdapat bangunan cungkup seperti masjid berbentuk limas tumpang dua.

Ponts telah menggabungkan antara aristektur Barat dengan setempat yang melahirkan karya arsitektur Indische. (red//Sumber, Dispen Lanal Tegal // Foto dok. Bang Jepret)

 185 total views,  27 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.