(Peninggalan Zaman Batu di Kab. Tegal)

Penulis : Bung Baedy (FB)

Di desa Balapulang Kulon tepatnya di tengah hutan jati terdapat dua onggok batu lumpang. Jika kita menilik sejarah, maka bisa dibilang batu lumpang ini adl sisa peradaban zaman batu ketika Tegal masih dalam zaman pra-aksara (pra-sejarah). Zaman batu pada masa pra-sejarah dibagi menjadi 4 yaitu paleolitikum (batu tua), mesolitikum (batu sedang), megalitikum (batu besar), dan neolitikum (batu muda).

Adapun batu lumpang bisa dikatogorikan sebagai zaman megalitikum. Awal mula batu ini digunakan yaitu sebagai alat penumbuk hasil pertanian (perkebunan). Namun ketika masuk zaman sejarah, batu semacam ini sudah mulai tidak digunakan. Sebab teknologi pada saat itu (batu) mulai beralih ke logam. Batu lumpang pada akhirnya beralih fungsi menjadi objek pemujaan (walaupun masih juga ada yg mempertahankan sbg alat penumbuk).

Watu lumpang di daerah Balapulang ini diduga masih aktif sebagai alat penumbuk padi atau singkong hingga zaman Sunan Amangkurat I Tegalarum. Namun tidak menutup kemungkinan mulai zaman Hindu batu ini sudah dijadikan sbg objek pemujaan. Adapun secara simbolis, sebenarnya batu lumpang ini adalah sebuah yoni yang melambangkan kesuburan tanah (terbukti yg letaknya berada di tengah hutan). Yoni juga merupakan lambang perwujudan alat kelamin Dewi Parwati.

Batu lumpang yg menjadi objek pemujaan diantaranya adalah mencari jodoh dan meminta hujan tentunya akan meninggalkan segudang misteri di masa sekarang. Adapun misteri yg bisa kita ketahui dapat kita cari tahu pada jujur kunci, sesepuh desa ataupun melalui link ini :
https://youtu.be/88XEZWoOD2g

Sumber :
1. Juru kunci situs watu lumpang
2. Wikipedia
(***)

114 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.