Tegal – Sebagian besar TPA di Indonesia juga masih mengandalkan sistem open dumping yakni, membuang sampah sembarangan di area mana pun yang tersedia, sehingga hal ini memberikan dampak kualitas udara yang buruk, air bersih, hingga penyakit bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

Hal ini menjadi pembahasan dalam diskusi webinar, Selasa (1/12/2020) di ruang Dinas Kominfo Kota Tegal yang di hadiri beberapa awak media di Kota Tegal dengan Narasumber Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Pris Polly Lengkong , Wahyudi Sulistya, Direktur Kemasan Grup, Manggara Sukendar dan Wakil Walikota Tegal, Muhamad Jumadi ST.MM yang sedang melakukan kunjungan kerja

Menurut Muhamad Jumadi, Wakil Walikota Tegal, Budaya membuang sampah yang berujung ke TPA sudah seharusnya kita tinggalkan mengingat jumlah sampah yang kerap meningkat dan mulai memenuhi lingkungan.

Untuk itu Pemkot Tegal berkomitmen terhadap pengelolaan sampah dan lingkungan hidup yang merupakan permasalahan kompleks bagi hampir seluruh daerah, dapat diwujudkan Kota Tegal dengan menjalankan pasal 12 Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Mulai dari pengelolaan sampah di 21 TPS dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), pemanfaatan sampah kantong keresek untuk bahan baku sepatu dan kerajinan lainnya.

Bahkan, jalan di Kompleks Balai Kota Tegal dibuat dari aspal yang dicampur dengan limbah plastik”, ujarnya.

Diskusi seri ke dua dari total 12 rangkaian webinar edukasi yang dilakukan oleh YYADU!. Program YYADU! sendiri telah mendapatkan berbagai macam dukungan baik dari organisasi, pemerintah maupun swasta. Dan saat ini, YYADU! bekerja sama dengan beberapa pihak termasuk dengan Kemasan Group dalam pilot projek waste management end-to-end di Kota Tegal yang akan dievaluasi dalam waktu dekat.

Sedangkan menurut Wahyudi Sulistya, selaku Direktur Kemasan Grup, belum ada pengganti plastik dari segi emisi karbon, fungsi, durabilitas, dan harga. Tas bungkusan pengganti yang saat ini menjadi opsi dan banyak digunakan untuk bungkusan, seperti spunbound ataupun paper bag pun juga memiliki lapisan plastik Polypropylene atau PP, yang membuat tas tersebut menjadi water-proof

“Pemerintah Daerah memegang peranan penting dalam mengharmonisasikan sinergi antara swasta, pemerintah, komunitas dan masyarakat dalam penanganan tata kelola sampah dengan menjalankan UU yang telah diatur. ” pungkasnya

Berkaitan dengan pengelolaan sampah, disebutkan oleh Wakil Wali Kota Tegal, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal telah bekerja dengan beberapa pemangku kepentingan menjalankan projek tata kelola sampah untuk mewujudkan total solution permasalahan sampah di Kota Tegal, salah satunya dengan ADUPI, INAPLAS, PT. Trinseo Materials Indonesia, dan Kemasan Group.

Dan saat ini pilot projek Kota Tegal yang telah berhasil mengelola 10 ton sampah per hari dan dijadikan briket untuk subtitusi batu bara yang digunakan industri, kami berharap pemerintah daerah lainnya dapat melihat permasalahan sampah di daerahnya masing-masing lebih jauh dan holistik lagi, sehingga, penyelesaian masalah sampah diselesaikan secara keseluruhan melalui tata kelola sampahnya, tidak hanya melakukan pelarangan”, ujar Wakil Walikota.

Lebih lanjut Dirinya mendukung penuh solusi permasalahan lingkungan dan sampah plastik dengan menegakkan tata kelola sampah yang menyeluruh, sehingga kedepannya tidak akan menumpuk di TPA. (red)

 1,248 total views,  2 views today

Detak Indonesia