Media Network

1 Desember 2020

Kolaborasi Kelola Sampah Berbasis Circular Economy di Kota Tegal

2 min read

detakindonesia.com  – Ekonomi sirkular adalah sebuah alternatif untuk ekonomi linier tradisional dimana kita menjaga agar sumber daya dapat dipakai selama mungkin, menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan pada setiap akhir umur layanan.

Kota Tegal merupakan wilayah yang berada di pesisir pantai utara Jawa Tengah, keberadaan Nelayan Tegal  setiap hari menghasilkan sampah plastik,  salah satunya bekas pembungkus ikan segar hasil tangkapannya di laut.

Wakil Wali Kota Tegal Muhamad Jumadi yang hadir dalam SD Symposium Circular Economy di Hotl Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis 20 Februari 2020, memberikan penjelasan, Kota Tegal mengelola sampahnya melalui  TPS 3R  yang ada di 21 kelurahan. Tegal sendiri memiliki 27 kelurahan, dan bagi kelurahan yang belum ada TPS 3R, dapat numpang mengirim sampahnya ke kelurahan lain yang berdekatan, setelah dilakukan  Pemilahan sampah di TPS lalu dikirim ke industri daur ulang.

Sedangkan Sampah kantong keresek menjadi perbincangan bahkan beberapa daerah melakukan pelarangan, namun di Tegal justru dimanfaatkan  antara lain, untuk  bahan baku untuk  sepatu, kerajinan, atau jadi keresek lagi. Tak hanya itu, jalan di Kota Tegal sepanjang 1.800 meter dibuat dari aspal plastik atau aspal yang dicampur dengan plastik.

Dalam perbincangannya melalui jaringan selular pribadinya, Jumadi mengakui sangat mendukung upaya pengelolaan sampah plastik berbasis circular economy. Hal ini dikarenakan sebagai solusi paling pas kalau sudah dipakai,  plastik itu dikumpulkan, lalu dikirim ke daur ulang agar barang itu bisa terus digunakan, pungkasnya.

Sejatinya melalui sinergi dan kolaborasi dengan  industri, komunitas, masyarakat dan akademisi, dapat dilakukan, bahkan Pemerintah Kota Tegal membuka pintu seluas-luasnya kepada siapapun yang mau bekerja sama dan sinergi menata kelola  sampah secara circular economy.

Sampah plastik sudah menjadi isu global, saatnya aksi, tidak sekadar seminar dan dibicarakan, tapi diimplementasikan, agar rakyat merasakan hasilnya.

Mengelola sampah tidak bisa sendirian,  harus sinergi dan kolaborasi,  masyarakatnya diajak, komunitasnya didorong, industri, dan asosiasinya juga bergerak dan pemerintahnya juga serius. Kolaborasi adalah upaya nyata wujudkan kelola sampah berbasis circular economy (red/CN/tim)

 784 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *