Media Network

30 November 2020

Gedung LANAL TEGAL  atau NV HANDELSBANK MATSCHAPPIJ

2 min read

detakindonesia.com – Perkembangan perniagaan yang dilecut dari angin liberalisme membawa dampak masuknya investasi dari swasta di Hindia Belanda. Sejumlah regulasi ditetapkan oleh Pemerintah kolonial. Salah satunya UU Agraria 1870. Aturan ini merubah dalam persoalan agraria.

Produk hukum tersebut merupakan jawaban pemerintah kolonial atas tuntutan kaum liberal yang meminta kepastian hukum atas tanah yang dikuasai masyarakat/penduduk. Inilah yang kemudian menghasilkan hubungan horizontal.antara tanah, tenaga kerja dan kapital (baca pemilik modal). Investasi yang cukup pesat adalah pada bidang industri perkebunan.

Produk utama perkebunan yang menjadi andalan diantaranya adalah tebu, tembakau, nila, kopi dan teh. Terkecuali kopi yang didominasi negara, perkebunan lainnya melahirkan perusahaan yang bergerak dalam bidang agrikultural. Kemajuan perniagaan didorong pula oleh banyaknya lembaga pendanaan yang menyuplai permintaan modal. Seperti Handelsvereeniging dengan modal f. 1,25 juta berdiri tahun 1878. Tahun 1881 didirikan Bank Koloniale dengan modal f 0,5 juta.

Terakhir tahun 1863 berdiri di Amsterdam lembaga Handelsbank Matschappij. Lembaga ini mengkhususkan pada bidang perniagaan khususnya pada pendanaan perkebunan di Hindia Belanda. Ekspansi lembaga berkembang pesat. Pada tahun 1901 membuka cabang di Singapura, berturut-turut 1906 membuka di Hongkong sebagai upaya menunjang perniagaan gula, 1920 dibuka cabang di Sanghai, Calcutta, Bombay dan Kobe sebagai upaya mendukung perniagaan katun di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan, 1921 mendirikan cabang di Tokyo, setahun berikutnya di Yokohama.

Di tahun 1950 berganti nama Nationale Handelsbank. Pada tahun 1959 bank ini dinasionalisasi dengan nama Bank Umum Negara.

Tegal merupakan salah satu wilayah yang pesat dengan perniagaan. Pada abad XIX wilayah ini telah memiliki industri gula dan areal perkebunan yang menjanjikan. Kawasan industri gula berpusat di Pangkah, Pagongan, Kemanglen, Balapoelang, Doekoehwringin, Kemantran dan Adiwerna Industri gula menciptakan peningkatan infrastruktur di kawasan Tegal.

Pesatnya Tegal memungkinkan kawasan ini oleh pemerintah kolonial dijadikan sebagai gementee (setingkat kotapraja) tahun 1906, berdasarkan Staatsblad No 123, tertanggal 1 April 1906.

Gedung Lanal TNI Angkatan Laut menjadi bukti pesatnya dinamika perkembangan ekonomi di kota Tegal. Berdiri tahun 1914, bangunan berciri Eropa klasik dan monumental ini pernah digunakan sebagai kantor N.V Handelsbank Matschappij, sebuah lembaga perbankan yang berkaitan dengan pendanaan pada sektor perkebunan.

Berada pada jalan Proklamasi No.1 Tegal, ini membuktikan sejak kolonial, kota Tegal mempunyai medan magnet bagi ekonomi serta perniagaan.

Berada diatas tanah seluas 2.970 meter, bangunan Lanal Tegal ini memiliki luas bangunan 1.069,2 meter dengan panjang 59,40 meter, lebar bangunan 18 meter dan tinggi bangunan mencapai 8 meter.
Tipe klasik Eropa pada bangunan ini ada pada bagian pintu masuk yang diatasnya menyerupai bangunan kastil Eropa dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan tropis dengan pengadaan ruang berventilasi dan jendela yang banyak dan tinggi sehingga menciptakan keteduhan di dalam ruangan.

Bangunan ini berpindah ke TNI Angkatan Laut tahun 1960 dan digunakan sebagai Markas Komando ALRI Tegal. Pernah digunakan sebagai kantor PT Yala Gita dan Gedung Sional dan sekarang dipaqkai Markas Komando Angkatan Laut Tegal. (sumber //Dispen Lanal Tegal//foto Dok.Bang Jepret)

 214 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *