Gedung BIRAO SCS

detakindonesia.com – Bangunan kokoh yang berdiri tepat di jalan Pancasila Tegal ini menjadi bukti saksi sejarah transportasi kereta api di Jawa, sekaligus peninggalan arsitektur kolonial Hindia Belanda. Karena bangunan yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai gedung Birao ini merupakan karya arsitek yang berpengaruh dalam meletakkan pondasi aristektur khas kolonial Hindia Belanda.

Adalah Henry Maclaine Pont (1884-1971) yang merancang bangunan gedung Birao sebagai kantor perusahaan kereta api Semarang Cheriboon Stroomtram Matschappij. Karya-karya Maclaine Ponts banyak tersebar dan menjadi ikon aristektur kolonial. Rancangan antara lain gedung Technische Hogeschool 1918 (sekarang ITB Bandung), Stasiun Tegal (1911), gereja Pohsarang Kediri (1936) merupakan sejumlah karya Ponts.
Bersama dengan sahabatnya Thomas Karsten, Maclaine Ponts banyak mewarnai karya-karya arsitektur Indisch yang memadukan estetika dan fungsi.

Ciri khasnya berupa Bangunan yang didesain dengan dasar kebudayaan barat, namun adaptif terhadap keadaan iklim tropis yang kelembaban, curah hujan, dan intensitas cahaya mataharinya tinggi.

Karyanya atas gedung Birao merupakan karya pertamanya di Hindia Belanda. Ia merancang bangunan Semarang Cheriboon Stroomtram Matchappij berkat koneksinya dengan petinggi SCS Henry de Vogel yang notabene merupakan pamannya.

Kekuatan bangunan gedung birao ini menjadi dasar pijakan selanjutnya bagi Maclaine Ponts, terutama berkaitan dengan adaptasi lingkungan dan iklim serta pemakaian bahan bangunan.
Luas bangunan gedung Birao ± 7.106 meter berdiri diatas tanah seluas ± 11.000 meter. Panjang bangunan ini ± 120 meter dengan lebar ± 42 meter dan tinggi ± 36 meter.

Pilihan pada batu bata dan pemakaian kayu, menjadikan bangunan ini unik dan mampu menyesuaikan dengan iklim tropis. Bangunan ini diselesaikan tahun 1913.

Bangunan Birao kini menjadi milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebelumnya pernah digunakan sebagai bangunan sekolah dan Universitas milik Yayasan Pancasakti.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) pernah dijadikan markas balatentara Jepang. Termasuk saat revolusi kemerdekaan, gedung SCS menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan Jepang oleh para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA).

Berita proklamasi yang diperoleh para pemuda AMKA, pada tanggal 6 September 1945 menjadikan mereka berkeinginan menaikkan bendera merah putih di gedung SCS.

Di tengah ancaman kekuasaan status quo Jepang, pemuda AMKA menaikkan bendera merah putih diatas gedung SCS tanggal 7 September 1945.

SCS dan Transportasi Kereta Api di Jawa Perusahaan Semarang Cheriboon Stroomtramm Matchappij merupakan salah satu perusahaan transportasi kereta api yang melayani trayek Semarang hingga Cirebon melalui Pekalongan dan Tegal.

Pada masa pemerintahan kolonial terdapat beberapa perusahaan kereta api. Diantaranya milik perusahaan pemerintah Staats Spoorwegen yang melayani trayek Batavia – Buitenzorg (Bogor). Perusahaan kereta api ini juga membuka trayek Surabaya-Pasuruan-Malang.

Beberapa perusahaan kereta api lainnya yang pernah ada di Indonesia era pemerintah kolonial antara lain Nederlandsch Indiche Spoorweg Matschappij, Semarang Joana Stroomtram Matschappij yang melayani Semarang Juwana, Serajoedal Stroomtramm melayani trayek Banyumas-Cilacap-Banjarnegara hingga Wonosobo.

Gedung Birao adalah saksi bahwa Tegal menjadi penanda transportasi kereta api di Jawa yang tak lekang digerus zaman. Meski banyak yang tak mengetahui dibalik kekokohan bangunan ini. (Red/sumber Dispen Lanal Tegal // Foto Dok. Bang Jepret)

.

 354 total views,  6 views today

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.