Media Network

30 November 2020

Mengeksplor Sponge Hingga Perilakunya di Pulau Maratua, Research Day 2019 Fakultas Biologi UGM

2 min read

Yogyakarta – Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta melakukan kegiatan ilmiah Research Day 2019 di lingkungan fakultas Biologi meliputi tiga kegiatan yakni pameran poster, buku dan video hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. Serta  berupa Diseminasi hasil riset Doktoral almarhumah Ratih Aryasari, M.Si dan Kuliah umum.

Seminar dengan menghadirkan  narasumber ahli dibidangnya diantaranya Dr. rer. nat. Edwin Setiawan, S.Si. M.Sc. Dosen Biologi, Institute Teknologi Surabaya (ITS) dengan kajian “Populasi Genetik Empat Jenis Spons (Porifera, Grant, 1836) Yang Berada di Perairan Indonesia. Dari Fakultas Farmasi UGM, ada Dr. rer.nat.Yosi Bayu Murti dengan makalah “Bahan Alami Laut Sumber Obat Dimasa Depan.” Sebagai pembicara terakhir Manager Program Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yayasan Kehati, Basuki Rahmat yang membawakan makalah “Manajemen Pengelolaan Sumber Daya Hayati Laut Indonesia.” merupakan salah satu apresiasi kepada almarhumah Ratih Aryasari, M.Si dan Kuliah umum yang selama hidupnya mendedikasikan diri untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Bahkan pemutaran film dokumenter hasil eksplorasi Sponge di Pulau Maratua yang merupakan karya Juswono Budisetiawan, S.Si, M.Sc, suami almarhumah Ratih Aryasari. Mengeksplor Sponge, mulai dari jenis sampai perilakunya di perairan Maratua nan indah.

Terkait Biodiversity Perairan Indonesia Juswono Budisetyawan berpendapat  Porifera (kata Latin yang berarti “berpori”) atau Spons atau Bunga karang merupakan organisme multiseluler, yang mempunyai banyak pori sehingga air dapat melewatinya.

Tubuh mereka terdiri dari mesohil yang diapit dua lapisan tipis sel. Spons memiliki sel yang tak terspesialisasi (tidak memiliki tugas khusus) dan dapat berubah menjadi tipe sel lain serta dapat berpindah antara lapisan sel utama dan mesohil.

Spons tidak memiliki sistem saraf, pencernaan maupun sistem peredaran darah. Sebaliknya, sebagian besar mengandalkan aliran air melalui pori-pori tubuh mereka untuk mendapatkan makanan dan oksigen dan untuk membuang limbah.

Porifera, merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang perlu dilindungi dan dikembangkan. Biodiversitas yang dimiliki perairan Indonesia tentunya digunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.  “Pemanfaatan Biodiversitas untuk Kemandirian, Kesejahteraan, dan Ketahanan Bangsa” papar Juswono.

Menurutnya  pendapat maupun kajian  bahasan dari narasumber yang dihadirkan  menunjukkan  bagaimana kita mendaya gunakan sumberdaya alam, sumber daya manusia serta  sumberdaya finansial untuk mewujudkan kemandirian.

“Kita harus waspada, tanpa kemandirian tersebut, bisa jadi apa yang kita miliki malah dimanfaatkan oleh pihak asing dan ironisnya dijual lagi ke kita dalam bentuk produk jadi.” (red/G/tim)

 163 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *