Detakindonesia.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tegal menerima penghargaan Program Terbaik Capaian Tuberkulosis (TBC) Peringkat 1 Tingkat Nasional dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, di The Stones Hotel Legian Bali dalam Acara Tuberculosis (TB) Summit, Rabu (20/10) lalu.
Penghargaan diberikan Kemenkes RI karena Kota Tegal capaian cakupan deteksi TBC-nya paling tinggi di level nasional.

Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal dr. Sri Primawati Indraswari dan kemudian diserahkan kepada Wali Kota Tegal, H. Dedy Yon Supriyono pada Sabtu (23/10).
Wali Kota Tegal mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada Pemkot Tegal dalam penanganan TBC.
“Alhamdulillah kita bisa mendapat penghargaan peringkat pertama mewakili Jawa Tengah,” ungkap Wali Kota bersyukur.

Dengan penghargaan yang diraih, Wali Kota meminta jajarannya untuk selalu diarahkan bisa menjaga dan mempertahankan terus prestasi yang diraih serta di dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kota Tegal agar semakin baik dan dimaksimalkan sehingga setiap tahun kasus TB di Kota Tegal seluruhnya dapat dieliminasi.

Sri Primawati Indraswari menyampaikan bahwa penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut, diberikan dalam rangka untuk mendukung program mengeliminasi Tuberkulosis (TB) di tahun 2030. Komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk mengeliminasi TB di tahun 2030.

Disebutkan Prima, untuk mengeliminasi TB di tahun 2030, pemerintah harus bisa mendeteksi dini penemuan kasus TBC di masyarakat. Sebab menurut dr. Prima, masih banyak kasus di tengah masyarakat yang belum ditemukan. Untuk saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-3 untuk kasus TBC di dunia, sehingga pemerintah harus menemukan kasusnya di masyarakat.

“Kota Tegal alhamdulillah untuk penemuan kasus, yang telah dilakukan secara “aktif”, “pasif”, “masif” dan “intensif”,” ujar dr. Prima, sapaan akrab Kepala Dinkes Kota Tegal itu.
Prima menjelaskan bahwa pihaknya secara aktif melibatkan Kader Kesehatan,
Tim Promosi Kesehatan dari Dinkes di lini pertama dengan kegiatan kunjungan rumah melalui program Keluarga Sehat dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Giat tersebut dilakukan untuk mencari masyarakat yang memilki gejala atau menunjukan ciri-ciri TBC. Dengan giat tersebut, pihaknya bisa mendeteksi dini dan ketika didapatkan masyarakat yang terkena TBC, untuk segera dilakukan pengobatan.
“Jadi deteksi dini secara aktif yaitu Dinkes aktif mencari masyarakat penderita TBC melalui kader kesehatan dengan kunjungan ke rumah,” jelas dr. Prima.

Dijelaskan dr. Prima, penemuan kasus secara pasif, artinya penderita yang mendatangi fasilitas kesehatan, mereka yang sudah merasa sakit dengan gejala TBC dan datang sendiri ke fasilitas kesehatan akan lebih mempercepat deteksi, diagnosa dan pengobatan lebih cepat.

Disebutkan dr. Primawati, di Kota Tegal sudah ada tiga alat Tes Cepat Molekuler (TCM), di RSUD Kardinah, di Klinik Paru dan Puskesmas Margadana, secara cepat pihaknya bisa mendiagnosa TBC.
Sementara deteksi dini yang dilakukan secara masif, artinya Dinkes menjangkau komunitas-komunitas yang beresiko. dr. Primawati mencontohkan pemeriksaan di Lembaga Pemasyarakatan, Pondok Pesantren , Panti Asuhan dan du kantor-kantor.
Sedangkan penemuan kasus secara intensif, Dinkes melakukan diagnosa TBC kepada penderita yang memiliki diagnosa diabetus melitus, memiliki penyakit paru, perokok, HIV.

Kemudian setelah ditemukan masyarakat yang didiagnosa TBC, harus diobati dengan pengobatan yang intensif. Sebab pengobatan untuk TBC relatif lama dan dilakukan secara terus menerus, tidak boleh putus obat, 6-12 bulan.

Dikatakan dr. Primawati, Dinkes sudah bekerjasama dengan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia (KOPI) yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PPNI, IBI, Perhimpunan-perhimpunan dokter Spesialis, IAI, dan juga kerjasama dengan organisasi kemasyarakatan  Aisyiah, Muslimat, TP PKK, GOW, Kader Kesehatan dan sinergi lintas sektoral DPU PR, Disperkim dan Dislatan, yang telah terbangun komitmen bersama untuk mengobati TBC harus dilaksanakan sampai purna.

“Jika, pasien yang bersangkutan berhenti berobat sebelum selesai pengobatan Dinkes akan melakukan pelacakan supaya pasien tidak berhenti berobat. Sebab jika pengobatan tersebut berhenti, nanti akan resistance terhadap obat tersebut, dan akan lebih sulit diobati,” jelas Kadinkes yang juga juga menyebut,

Dinkes memberikan makanan tambahan kepada penderita TBC yang ditemukan. Berupa susu dan biskuit yang diberikan secara berkala.
Dijelaskan dr. Primawati, sebetulnya Dinkes hanya menjalankan tugas seperti biasa, karena eliminasi TBC merupakan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan. Prinsip Dinkes bahwa untuk eliminasi TBC, pihaknya harus menemukan jika ada penderita TBC di Kota Tegal. Selain itu, di masa pandemi ini pun, Dinkes tetap menjalankan program tersebut sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Dengan penghargaan yang diperoleh, dr. Primawati menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah berkontribusi aktif. Seperti masyarakat yang tergabung dalam komunitas-komunitas peduli TBC, Aisyiyah, Muslimat, NU, Muhammadiyah, lintas sektoral, baik DPUPR, Disperkim, organisasi masyarakat, PKK, GOW dan lain sebagainya yang sudah berkontribusi bersinergi bersama-sama menangani kasus TBC.

Lebih lanjut, dr. Prima menyampaikan Pemerintah Kota Tegal berkomitmen mendukung Pemerintah Pusat dalam rangka eliminasi TBC di Tahun 2030 melalui program Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC).
“Pelayanan TBC telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Tegal yaitu dengan deteksi dini TBC yang selanjutnya dilakukan pengobatan sampai sembuh. Selain itu, saat ini Pemkot Tegal sedang proses pembuatan Peraturan Daerah (Perda) penanggulangan TBC, yang bertujuan dapat meningkatkan kinerja pelayanan TBC sehingga upaya eliminasi TBC bisa segera terwujud,” pungkas dr. Primawati. (red)

 118 total views,  2 views today

Redaksi